Minggu, 09 Oktober 2011

cerpen kenakalan remaja



        Pagi itu Michelle bergegas untuk berangkat ke sekolah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Saat tiba di sekolah, bel tanda masuk telah berbunyi dan gadis keturunan Amerika tersebut langsung lari menuju ke ruang kelasnya. Beberapa saat kemudian, seorang guru masuk ke ruang kelas dan mulai mengajar. hari itu, pelajaran berlangsung seperti biasa, dan Michelle begitu bersemangat mengikuti setiap mata pelajaran yang ada.

        Ia memang termasuk siswa yang pandai dikelasnya. Ibunya berdarah Indonesia, sedangkan ayahnya warga negara Amerika, oleh karena itu Michelle memiliki wajah Indo yang begitu menarik, perpaduan antara Indonesia dan Amerika. Hal ini tentu menjadi nilai lebih baginya. Apalagi, ia dikenal sebagai anak yang supel dan mudah bergaul dikalangan teman-temannya.

        Ayahnya bekerja dinegara asalnya, Amerika. Ia hanya pulang ke Indonesia seminggu sekali pada akhir pekan untuk bertemu dengan istri dan anaknya. Ayahnya juga selalu membawakan makanan-makanan kesukaannya saat pulang. Minggu ini ayahnya pulang dengan membawakannya sekotak cokelat Swiss yang besar. Ia berniat membagikannya pada teman-teman di kelasnya.

        Michelle sekolah di salah satu sekolah internasional di Jakarta, dan setiap hari Sabtu, dikhususkan untuk kegiatan character building, dimana karakter setiap siswa dibentuk, menggali potensi siswa dan mempererat kebersamaan diantara mereka. Hari itu Michelle membagikan cokelat dari ayahnya kepada teman-temannya dengan bahagia. Salah seorang temannya yang bernama Catherine bergumam 'betapa sempurnanya kehidupan Michelle'. Catherine memang dikenal sebagai satu-satunya anak dari keluarga kurang mampu yang sekolah disekolah ternama itu. Catherine dapat sekolah disitu karena ia mendapat beasiswa atas prestasi belajar yang ia miliki.

        Teman-teman Michelle dikelas , rata-rata adalah anak orang kaya. Mereka juga cukup angkuh dan memandang rendah Catherine. Mereka selalu memanfaatkan Catherine. Hanya Michelle yang baik dan mau berteman dengannya. Setiap mendapat tugas dari guru, maka teman-teman sekelasnya itu selalu menyuruh Catherine mengerjakan tugas itu bagi mereka. 'Hei, kamu harus mengerjakan tugas kami semua' kata Nindya, teman sekelasnya. Catherine menjawab dengan suara bergetar 'ta..Tapi..'. 'Ah.. Tidak ada tapi-tapi. Kalau kau tidak mengerjakan, kau akan tahu akibatnya' gertak Nindya. AKhirnya Catherine hanya bisa tertunduk dan berkata 'baiklah'. Dalam situasi seperti itu, biasanya Michelle yang selalu membantu Catherine. Namun kali ini Michelle tidak muncul. Akhir-akhir ini Michelle jarang masuk sekolah. Saat Michelle masuk sekolah, ia menjadi anak yang aneh. Ia tidak lagi ceria dan supel lagi. Ia menjadi sangat berubah dan berbeda dari sebelumnya. Michelle yang dulu adalah anak yang pandai, ceria, ramah, dan baik sudah berubah. Berganti menjadi Michelle yang cuek, semena-mena, sombong, dan prestasinya menurun drastis.

        Ternyata semua perubahan yang terjadi pada diri Michelle berawal dari keluarganya. Dirumah, ayah dan ibunya sering bertengkar. Mulanya itu hanyalah konflik sederhana yang biasa ada didalam keluarga. Namun lama-kelamaan, ayahnya sudah tidak pernah pulang ke rumah dan ibunya juga tidak memperhatikannya lagi. Michelle merasa sangat tertekan menghadapi situasi ini. Apalagi ia adalah remaja SMA yang sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. 

        Namun, karena ia tidak mendapatkan perhatian itu dari orang tuanya, maka ia melampiaskan kekecewaannya terhadap hal-hal lain yang bisa membuatnya senang. Suatu waktu, teman sekolahnya meiliaht ia sedang muruh. Kemudian, menghampiri Michelle dan bertanya 'hai, kenapa kau terlihat sedih?' Tanpa sadar, Michelle mulai menceritakan masalahnya. 'Aku membutuhkan sesuatu yang bisa membuatku bahagia' imbuhnya. 'Sudahlah, lupakan saja masalahmu. Ayo ikut aku, aku akan memberimu sesuatu yang bisa membuatmu gembira dan melupakan masalahmu' bujuk Ria, temannya itu.

        Awalnya Michelle menolah, namun Ria terus memaksa dan membujuknya. Sampai akhirnya, dengan hati-hati Michelle mengambil serbuk itu. 'Apakah akan baik-baik saja?' tanya Michelle. Ria dengan cepat dan tanggap berkata 'tentu saja, hidupmu akan menjadi lebih indah'. Perlahan namun pasti, Michelle menghirup serbuk itu. Awalnya ia merasa aneh, namun untuk yang kedua dan ketiga kalinya, ia mulai terbiasa.

        Hal ini menjadi titik awal dari keterpurukan dalam hidupnya. Ia mulai terjerumus dalam kehidupan teman-teman sekelasnya yang memiliki pergaulan kurang baik. Setiap hari ia pergi kediskotik bersama teman-temannya. Setiap kali ia mengingat masalahnya dan mengalami stress, maka ia lari pada narkoba. Begitulah kehidupannya saat ini. Sangat menyedihkan, karena ia merusak dirinya sendiri tanpa sadar. Pernah sesekali Catherine menegurnya 'Michelle, kenapa kamu sekarang berubah?' Namun Michelle malah membentaknya 'Diam kau! Kamu itu tidak tahu apa-apa!' Catherine tersentak dan hanya dapat berkata 'Maafkan aku, aku hanya berharap kamu bisa jadi lebih baik' lalu ia pergi meninggalkan Michelle. Michelle sama sekali sudah menutup pintu hatinya dan terus terjerembab dalam dunianya.

        Suatu kali, saat ia sedang berada di diskotik sampai tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum alkhohol, tiba-tiba ada razia. Michelle yang tergeletak dibar ditinggalkan begitu saja oleh teman-temannya. Celakanya disaku bajunya, ia juga membawa narkoba. Sehingga pada saat polisi masuk, polisi tersebut mendapati Michelle yang tergeletak dibar dan langsung menggeledah barang-barangnya. Polisi menemukan narkoba, dan membawanya ke kantor polisi. Michelle baru sadarkan diri saat ia berada dikantor polisi. Polisi langsung memberi beberapa pertanyaan kepada Michelle dan mengintrogasinya. Singkatnya, Michelle ditahan di penjara dan teman-temannya sudah tidak lagi peduli kepadanya. Teman-temannya tidak mau terlibat jika Michelle ada dalam masalah seperti ini. Hanya Catherine, satu-satunya teman yang mau mengunjunginya dikantor polisi dan menghiburnya. 'Kenapa kau masih mau berteman dengan seorang tahanan sepertiku?' tanya Michelle. 'Kau adalah temanku, dan selamanya adalah temanku Michelle. Aku mengasihimu' jawab Catherine. Dengan berlinang air mata Michelle berkata 'Maafkan aku, aku terlalu jahat kepadamu, tapi kau sangat baik padaku. Aku berjanji, aku akan berubah menjadi lebih baik'. Kemudian Catherine memeluk Michelle seraya berkata 'Aku telah memafkanmu'.

        Sejak saat itu Michelle menjalani hari-harinya dipenjara selama dua tahun. Akhirnya saat ia bebas, ia benar-benar berubah dan menjadi lebih baik. Ternyata pengalamannya dipenjara memberi dia banyak pelajaran dan membuat dia lebih dekat kepada Tuhan, sehingga ia merasakan kasih dan kedamaian yang sejati. Bahkan saat ini dia dan sahabatnya Catherine bersama-sama melayani disebuah panti rehabilitasi bagi pecandu narkoba.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar